C – D

Cundamanik

CUNDAMANIK, anak panah pusaka milik Begawan Drona yang diperolehnya dari istrinya, Dewi Wilutama. Setelah melahirkan Aswatama, Dewi Wilutama harus segera kembali ke kahyangan. Sebelum berangkat ia menyerahkan anak panah pusaka itu pada Bambang Kumbayana (Drona semasa muda), dengan pesan agar Cundamanik diberikan pada anaknya kelak. Continue reading

Cucur Bawuk, Gending

GENDING CUCUR BAWUK, adalah nama gending karawitan gaya Surakarta. Gending Cucurbawuk dalam pewayangan adalah merupakan gending patalon (gending yang dimainkan sebelum pertunjukan wayang dimulai). Dalam pedalangan gaya Surakarta, gending ini sebagai gending patalon yang komposisinya terdiri dari: gending Cucukbawuk, minggah Pareanom, ladrang Srikaton, ketawang Sukmailang, Ayak-ayakan, Srepeg Manyura, Sampak Manyura, laras slendro pathet manyura.

Cucukdandang

CUCUKDANDANG, senjata sakti pemberian Dewi Gangga pada putranya, Resi Bisma. Pemberian pusaka itu terjadi pada saat Baratayuda. Resi Bisma yang merasa kewalahan menghadapi Resi Seta yang mengamuk, segera meninggalkan gelanggang dan lari ke Sungai Gangga dan bersamadi untuk dapat bertemu dengan ibunya.

Dewi Gangga, bidadari yang berkuasa atas sungai itu segera datang. Dengan terus terang Bisma menceritakan apa yang dialaminya, termasuk kekalahannya dari Resi Seta. Setelah mendengar laporan itu Dewi Gangga membekalinya sebuah senjata bernama Cucukdandang. Dengan senjata itu pula Resi Bisma dapat membunuh Resi Seta.

Namun, versi pedalangan lain menyebutkan bahwa senjata pemberian ibunya yang digunakan Resi Bisma untuk membunuh Resi Seta adalah Jungkat Penatas, bukan Cucukdandang.

Baca BISMA, RESI.

Cublaksuweng, Gending

GENDING CUBLAKSUWENG, [cubla’ suwêng, gêndhing] salah satu gending dolanan untuk anak-anak laras slendro pathet manyura. Gending dolanan Cublaksuweng ini dicipta oleh K.R.A. Sasradiningrat IV (Ngendraprastha) patih raja Paku Buwana X (1893-1939) di Surakarta. Sasradiningrat IV yang bertempat tinggal di Kepatihan Surakarta, pada zaman itu banyak mencipta gending dolanan, antara lain Jamuran, Cublaksuweng, Lintang, Jagowan, Cempa, Jambe-thukul, dan sebagainya. Continue reading

Cruta Sena

CRUTA SENA, dalam pewayangan Golek Purwa Sunda, adalah putra Dewi Durpadi dari Sadewa.

Cruta Kriti

CRUTA KRITI, dalam pewayangan Golek Purwa Sunda, adalah putra Dewi Durpadi dari Arjuna.

Condong

CONDONG, adalah panakawan wanita pada Wayang Kulit Purwa Bali. Merupakan nama wanita pelayan untuk mengemban dan meladeni permaisuri atau putri raja. Condong adalah cermin wanita sederhana yang banyak mengabdikan hidupnya di puri (Jawa, keraton). Prototipenya sangat sederhana dengan rambut disanggul kemudian hanya memakai kain (Bali, kamben) sebatas pusar ke bawah serta selendang dikalungkan di leher dan nyaris payudaranya kelihatan. Jika dibandingkan dengan Wayang Kulit Purwa di Pulau Jawa, tokoh Condong serupa dengan Cangik atau Limbuk. Continue reading

Clumpringan

CLUMPRINGAN, salah satu model dari beberapa jenis kelat bahu pada Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang. Kelat bahu clumpringan, antara lain seperti yang dikenakan oleh Citraksi dan Citraksa.

Citrayuda

CITRAYUDA, adalah bala tentara Kurawa yang paling dikenal dalam pewayangan Golek Sunda. Continue reading

Citrawirya, Prabu

PRABU CITRAWIRYA, raja Tunjungpura. Ia mempunyai putri cantik bernama Citralangeni. Setelah dewasa putri ini menjadi istri pertama Prabu Arjuna Sasrabahu, raja Maespati. Continue reading

Kategori Abjad

Sponsor