C – D

Cupak, Wayang

WAYANG CUPAK, adalah pertunjukan Wayang Kulit Bali yang mengisahkan perjalanan hidup Cupak-Grantang. Perangkat iringannya sama dengan pertunjukkan Wayang Kulit Ramayana, yang terdiri dari; empat buah gender wayang, dua buah kendang krumpungan lanang-wadon, sebuah kempul, kenong, cengceng duduk, kelenang, ketuk, dan beberapa seruling besar dan kecil. Continue reading

Cupak dan Grantang

CUPAK dan GRANTANG adalah tokoh utama dalam salah satu cerita rakyat Bali, yang mengisahkan dua orang kakak-beradik yang berbeda sifat, watak, dan perilakunya. Cupak berbadan gemuk, rambut gondrong acak-acakan, bertabiat buruk. Sebaliknya, Grantang tampan, rajin, dan sakti, bertabiat baik. Grantang lalu menjadi raja di Kerajaan Daha dan Cupak di Kerajaan Obagosi.

Cungkring

CUNGKRING, dalam Wayang Kulit Purwa gaya Cirebon adalah salah satu tokoh panakawan. Seperti Gareng, kaki depan Cungkring terkena penyakit bubul, borok yang menahun pada tumitnya. Ia juga merupakan perokok berat, sehingga sebelah tangannya selalu terselip sebatang rokok di antara jari-jarinya. Continue reading

Cundarawa

CUNDARAWA, anak panah pusaka milik Resi Bisma. Di hari pertama Baratayuda, Bisma menggunakan anak panah ini untuk mengalahkan Resi Seta. Waktu itu Seta mengamuk dan menimbulkan banyak korban di pihak Kurawa. Continue reading

Cundamanik

CUNDAMANIK, anak panah pusaka milik Begawan Drona yang diperolehnya dari istrinya, Dewi Wilutama. Setelah melahirkan Aswatama, Dewi Wilutama harus segera kembali ke kahyangan. Sebelum berangkat ia menyerahkan anak panah pusaka itu pada Bambang Kumbayana (Drona semasa muda), dengan pesan agar Cundamanik diberikan pada anaknya kelak. Continue reading

Cucur Bawuk, Gending

GENDING CUCUR BAWUK, adalah nama gending karawitan gaya Surakarta. Gending Cucurbawuk dalam pewayangan adalah merupakan gending patalon (gending yang dimainkan sebelum pertunjukan wayang dimulai). Dalam pedalangan gaya Surakarta, gending ini sebagai gending patalon yang komposisinya terdiri dari: gending Cucukbawuk, minggah Pareanom, ladrang Srikaton, ketawang Sukmailang, Ayak-ayakan, Srepeg Manyura, Sampak Manyura, laras slendro pathet manyura.

Cucukdandang

CUCUKDANDANG, senjata sakti pemberian Dewi Gangga pada putranya, Resi Bisma. Pemberian pusaka itu terjadi pada saat Baratayuda. Resi Bisma yang merasa kewalahan menghadapi Resi Seta yang mengamuk, segera meninggalkan gelanggang dan lari ke Sungai Gangga dan bersamadi untuk dapat bertemu dengan ibunya. Continue reading

Cublaksuweng, Gending

GENDING CUBLAKSUWENG, [cubla’ suwêng, gêndhing] salah satu gending dolanan untuk anak-anak laras slendro pathet manyura. Gending dolanan Cublaksuweng ini dicipta oleh K.R.A. Sasradiningrat IV (Ngendraprastha) patih raja Paku Buwana X (1893-1939) di Surakarta. Sasradiningrat IV yang bertempat tinggal di Kepatihan Surakarta, pada zaman itu banyak mencipta gending dolanan, antara lain Jamuran, Cublaksuweng, Lintang, Jagowan, Cempa, Jambe-thukul, dan sebagainya. Continue reading

Cruta Sena

CRUTA SENA, dalam pewayangan Golek Purwa Sunda, adalah putra Dewi Durpadi dari Sadewa.

Cruta Kriti

CRUTA KRITI, dalam pewayangan Golek Purwa Sunda, adalah putra Dewi Durpadi dari Arjuna.