Cundamanik

CUNDAMANIK, anak panah pusaka milik Begawan Drona yang diperolehnya dari istrinya, Dewi Wilutama. Setelah melahirkan Aswatama, Dewi Wilutama harus segera kembali ke kahyangan. Sebelum berangkat ia menyerahkan anak panah pusaka itu pada Bambang Kumbayana (Drona semasa muda), dengan pesan agar Cundamanik diberikan pada anaknya kelak.

Menjelang pecah Baratayuda, Cundamanik diwariskan kepada Aswatama. Namun, ketika kemudian Aswatama menggunakan Cundamanik melawan Arjuna yang menggunakan Pasopati, para dewa mempersalahkannya. Cundamanik disita oleh Batara Narada dan diserahkan kepada Arjuna.

Dalam Wayang Golek Purwa Sunda, Cundamanik bukan berupa anak panah, melainkan semacam ajimat pemberian Begawan Drona yang disimpan di kepala (embun-bunan) Aswatama. Cunda artinya memang ubun-ubun (tepat di tengah atas kepala), sedangkan manik artinya permata.

Itulah sebabnya menurut versi ini Cundamanik tidak pernah menjadi milik atau dibawa oleh Begawan Drona. Pusaka itu sudah melekat di ubun-ubun Aswatama sejak dilahirkan.

Selain itu, dalam pewayangan juga dikenal adanya Cundamanik yang lain. Yaitu yang berujud cincin. Dalam lakon Anoman Duta cincin Cundamanik milik Ramawijaaya dibawa Anoman untuk diberikan kepada Dewi Sita sebagai bukti bahwa kera putih itu benar utusan Rama.

Nama Cundamanik merupakan gabungan kata cunda dan manik. Cunda artinya gelung, sedangkan manik artinya permata. Panah Cundamanik pada bagian pangkal mata panah, diberi hiasan permata.

Lihat juga ASWATAMA, BAMBANG.

Leave a Reply